MALUKU ONLINE saat ini ditopang empat nyong Ambon yang berminat pada jurnalistik. Mereka masih muda, energik dan ingin membaktikan diri membangun Maluku. Siapa saja mereka ? Berikut ini salah satu dari empat sekawan tersebut.
Fileks Talakua, lahir di Ambon 26 Juli 1988. Anak sulung tiga bersaudara. Ayahnya Agustinus Talakua, seorang pengemudi angkutan kota. Ibunya, Henderdjela Manusiwa yang bekerja di Kantor Legium Veteran RI di Ambon.
Vicky, begitu biasa dia disapa. Mahasiswa semester ketujuh di Fakultas Teologia Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) Ambon ini, gemar melukis sketsa wajah manusia. Kakeknya bernama Filex Talakua, memang seorang seniman. Vicky tak sekadar membawa nama sang kakek, tapi juga darah seni. Meskipun sang kakek seorang pemain biola pada sebuah grup music Hawaiian di Porto, Saparua.
Vicky mulai gemar tulis-menulis saat masuk kuliah di kampusnya. Opini-opini tentang beragam isu ditulis dan disebarkan melalui blog (http://mercury-fileksmolucas.blogspot.com/).
Dia pernah dipilih menjadi salah satu team buletin Komisariat Teologi GMKI Ambon hingga sekarang. Selain itu juga aktif dalam organisasi, seperti senat mahasiswa dan Angkatan Muda GPM.
Menjadi seorang jurnalis dengan ilmu yang berbeda, tak segampang yang dipikirkan. Namun persoalan melayani tidak memilih tempat dan dengan cara apa.
“Maluku Online menjadi salah satu pilihan saya bersaksi dan melayani, ujar Vicky
FILEKS TALAKUA : email filekstalakua@gmail.com. Facebook Fileks Talakua Manusiwa
Minggu, 04 Desember 2011
Polisi Dinilai Lamban Urus Porto-Haria
Laporan : Fileks Talakua – Ambon
AMBON (Maluku Online) - Konflik antar Negeri Porto dan Haria di Saparua mengundang keprihatinan warga kedua negeri yang berada di Kota Ambon. Selain menyayangkan terulangnya peristiwa ini, mereka mengecam aparat keamanan yang dinilai lalai dan lamban.
Wakil Ketua Ikatan Pemuda Pelajar Samasuru Amalatu (IPPSA) Yangki Wattimury berpendapat, persoalan yang menimpa warga Porto dan Haria adalah akibat Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Saparua terlambat mengambil sikap.
Wattimury menguraikan, pada tanggal 23 November, terjadi pemukulan anak-anak Porto ketika pulang sekolah yakni Arter Sahertian. Selain itu, Doklas Aponno terkena lemparan batu. Kejadian ini sudah dilaporkan orang tua korban ke pihak kepolisian, namun tidak ada tindak lanjut. Hari berikutnya, Arter Aponno kembali dipukul hingga tangannya patah.
“Polisi menganggap sepele. Padahal, kalau pelakunya ditangkap pasti persoalannya akan selesai,” ungkap Yangki.
Wattimury mempertanyakan kinerja kepolisian. Pasalnya, Kapolda Maluku sudah menurunkan personilnya ke daerah konflik untuk tugas pengamanan. Tetapi dia heran sebab tetap saja terjadi keributan.
“Aparat keamanan sudah tahu solusi apa yang harus diambil. Polisi sudah diterjunkan ke Porto dan Haria, tapi kalau masih rusuh mending dicabut saja. Kapolsek juga dicabut saja dari saparua karena tidak bertanggung jawab,” ujarnya.
Wattimury menyebutkan, aparat brimob juga sudah diturunkan namun kemudian ditarik kembali pada 25 November, karena langsung terjadi kekacauan padahal ini daerah konflik. Kepolisian diharapnya benar-benar menyelesaikan masalah, bersikap netral dan tidak memihak Porto maupun Haria.
Dia tegaskan, kepolisan seharusnya sudah tahu ada bunyi tembakan dari Porto atau Haria, ada senjata tajam atau senjata api yang harus dicari atau melakukan swiping. Para pelaku, menurut dia, mestinya ditangkap dan diproses secara hukum.
“Kalau tidak diselesaikan, persoalan ini akan terjadi terus-menerus,” tegasnya. (editor : rudi@malukuonline.co.id)
AMBON (Maluku Online) - Konflik antar Negeri Porto dan Haria di Saparua mengundang keprihatinan warga kedua negeri yang berada di Kota Ambon. Selain menyayangkan terulangnya peristiwa ini, mereka mengecam aparat keamanan yang dinilai lalai dan lamban.
Wakil Ketua Ikatan Pemuda Pelajar Samasuru Amalatu (IPPSA) Yangki Wattimury berpendapat, persoalan yang menimpa warga Porto dan Haria adalah akibat Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Saparua terlambat mengambil sikap.
Wattimury menguraikan, pada tanggal 23 November, terjadi pemukulan anak-anak Porto ketika pulang sekolah yakni Arter Sahertian. Selain itu, Doklas Aponno terkena lemparan batu. Kejadian ini sudah dilaporkan orang tua korban ke pihak kepolisian, namun tidak ada tindak lanjut. Hari berikutnya, Arter Aponno kembali dipukul hingga tangannya patah.
“Polisi menganggap sepele. Padahal, kalau pelakunya ditangkap pasti persoalannya akan selesai,” ungkap Yangki.
Wattimury mempertanyakan kinerja kepolisian. Pasalnya, Kapolda Maluku sudah menurunkan personilnya ke daerah konflik untuk tugas pengamanan. Tetapi dia heran sebab tetap saja terjadi keributan.
“Aparat keamanan sudah tahu solusi apa yang harus diambil. Polisi sudah diterjunkan ke Porto dan Haria, tapi kalau masih rusuh mending dicabut saja. Kapolsek juga dicabut saja dari saparua karena tidak bertanggung jawab,” ujarnya.
Wattimury menyebutkan, aparat brimob juga sudah diturunkan namun kemudian ditarik kembali pada 25 November, karena langsung terjadi kekacauan padahal ini daerah konflik. Kepolisian diharapnya benar-benar menyelesaikan masalah, bersikap netral dan tidak memihak Porto maupun Haria.
Dia tegaskan, kepolisan seharusnya sudah tahu ada bunyi tembakan dari Porto atau Haria, ada senjata tajam atau senjata api yang harus dicari atau melakukan swiping. Para pelaku, menurut dia, mestinya ditangkap dan diproses secara hukum.
“Kalau tidak diselesaikan, persoalan ini akan terjadi terus-menerus,” tegasnya. (editor : rudi@malukuonline.co.id)
Kamis, 01 Desember 2011
Impian Pemudi Tulehu Membangun Maluku Lewat Pariwisata (diskusi via sms pemudi Tulehu dan pemuda Saparua)
Dian, salah satu pemudi asal Tulehu yang memiliki impian untuk memajukan Maluku lewat Pariwisata. Mengajak beta untuk berdebat, dengan topik Pariwisata di Maluku rabu soreh (30/11).
Perdebatan ini berawal ketika salah satu dosennya mengatakan kalau di Maluku terdapat banyak pariwisata namun memiliki sumber daya manusia yang terbatas. Dari pernyataan ini beta menanggapi bahwa orang Maluku memiliki sumber daya manusia yang banyak namun tidak diperhatikan, malah didatangkan tenaga-tenaga dari luar dan kalah terhadap papua yang mengutamakan anak daerah.
Lewat via sms dian menanggapi apa yang beta sampaikan ini kata dian.
“Secara awam pariwisata di indonesia dapat disimpulkan sebagai obyek yang disiapkan oleh pemilik wisata untuk ditonton oleh pelancong atau dengan kata lain umumnya adalah sebagai pariwisata budaya yang berpusat pada masyarakat, jadi kalau dilihat di wilayah indonesia timur itu memang betul kurang adanya sumberdaya manusia yang memadai karena kurangnya tenaga terdidik dan berpengalaman dan di bidang pariwisata tersebut karena di ambon misalnya, tidak terdapat lembaga pendidikan kepariwisataan. Dan juga yang pergi kuliah pariwisata misalkan di jawa setelah lulus mereka banyak keluar negri, selain itu banyak praktisi yang hanya mengandalkan pengalaman selama membuka usaha di bidang tersebut sedangkan pemberdayaan dari pemerintah kepada pelaku pariwisata tidak ada sama sekali”.
Jawaban ini membuat beta menarik kesimpulan bahwa, pertama adanya sumber daya manusia namun pergi dan lupa memberdayakan Maluku, kedua fasilitas (lemabaga pendidikan) minim di Maluku, dan Ketiga kurangnya pemberdayaan yang dilakukan oleh pemerintah terhadap masyarakat.
Diskusi selanjutnya beta menyampaikan via sms kepada dian bahwa
“Pasca konflik pengunjung menurun karena soal keamanan di maluku, kedua setiap pengunjung yang datang pasti punya skejul. Misalnya mau ke banda direncanakan tiga hari tapi karena transportasi yang satu minggu satu kali misalnya membuat pengunjung ragu untuk datang.... pariwisata dimaluku bisa maju dan llebih baik ketika orang maluku sendiri bangun kenyamanan buat pengunjung”.
Adik dian meresponi baik pemikiran yang beta utarakan ini. hal yang menjadi sorotan berikuntnya bagi dian adalah transportasi dan pemanfaatan sehingga dian menegaskan.
“Masalah transportasi juga merupakan suatu kendala pariwisata di ambon bisa maju yang penting bagaimana kita bisa memanfaatkan 4P (product, price, place, promotion) sangat sulit untuk mengembangkan roda kehidupan pariwisata agar sesuai dengan apa yang diharapkan namun bukan berarti tidak bisa. Jika kita membicarakan masalah pariwisata maka hal ini tak akan lepas dari bagaimana cara kita menjual dan memasarkan keindahan dan kekayaan pariwisata yang kita miliki di mata dunia”
Dari jawaban ini saya kembali mersponi dengan sedikit memberi argumen lewat apa yang saya baca di internet. Dan berdiskusi dengan salah satu teman saya di komunitas badati[1]. “Kk sempat browsing di internet banyak orang di seluruh dunia yang datang maupun belum pernah datang . sebagian sudah mengenal pariwisata di Maluku tapi yang jadi persoalan utama adalah keamanan jadi mari katong Islam- Kristen stop biking maluku manangis katong gandeng tangan bangun maluku sama-sama adik”
Dian merespon. “Ituuuu akang kaka e.. katong harus damai jang mau terprovokasi katong hidup basudara, pela gandong baru kanapa harus ada rusuh-rusuh seperti bagitu. Katong maluku sudah saatnya maju”
“Spakat adik maju maluku n maju pariwisata”. Menjadi jawaban saya terakhir dalam perdebatan (diskusi) via sms ini.
Sungguh menjadi salah satu penglaman berharga bisa berdiskusi dengan adik Dian. Akhir yang baik seorang pemudi Tulehu dan beta pemuda saparua (Porto)bisa mendiskusikan tentang pariwisata di Maluku yang akhirnya membicarakan tentang Perdamian di Maluku.
Hal yang beta dapat dari diskusi ini adalah Pariwisata di Maluku yang begitu banyak, butuh pemuda-pemudi yang kreatif dan komitmen dengan keinginan mereka untuk kembali mangente (melihat) tanah Maluku ketika mencapai kesuksesan di tanah rantau, pemerintah harus lebih memperhatikan infrastruktur (transportasi) di daerah-daerah khususnya Maluku yang memiliki banyak keindahan alam serta bagi masyarakat Maluku keamanan tercipta bukan dari pemerintah saja tetapi juga orang Maluku (orang yang sudah menetap di Maluku seluruhnya) karena membangun Maluku adalah tanggung jawab bersama.
Akhir penulisan ini tanggal (1/12). beta minta Danke vor adik Dian semoga tujuan adik untuk membangun Maluku lewat pariwisata bisa terwujud
Salam damai dari Timur untuk adik Dian Mardiana Kurniasih Ohorella di tanah rantau.
[1] Badati= salah satu komunitas yang bergerak di Ambon dari akar rumput (masyarakat) untuk menyuarakan tentang perdamaian. Badati sendiri memiliki arti secara harafiah adalah batanggong. Anggotanya dari pemuda/i salam dan sarane.
Pariwisata di Maluku Butuh “Komitmen” (diskusi via sms pemudi Tulehu dan pemuda Saparua)
Hasil diskusi yang beta buat lewat tulisan ini mungkin tidak semenarik dan sebaik yang teman-teman lakukan. Diskusi ini sebenarnya sudah dimulai tanggal (29/11) dan dilanjutkan tanggal (30/11) lewat permintaan teman saya yang disapa adik Dian.
Selasa malam (29/11)Dian dan beta mulai menyapa lewat SMS sekitar pukul 23.00 malam waktu ambon dan pukul 21.00 malam waktu jakarta. Berawal dari saling menyapa sehingga menanyakan proses kuliahnya Dian.
Dian adalah salah satu pemudi Tulehu yang menjadi mahasiswi di universitas Trisakti Fakultas pariwisata. Dengan basic ilmu yang seperti ini beta ragu untuk memulai diskusi tentang pariwisata. Namun kenapa tidak bila ini menambah pengetahuan. Dalam sms Dian mengatkan bahwa ketika memulai perkuliahan salah satu dosennya mengatkan kalau di Maluku pariwisatanya sangat banyak namun sumber daya manusianya terbatas.
Kemudian beta menanyakan untuk dian apa tanggapanmu? Dian menjawab “setuju kaka”. Alasan dian menjawab seperti ini lebih jelasnya dapat dilihat lewat diskusi di rabu soreh (30/11).
Hal saling menyapa lewat sms kembali terjadi sekitar pukul 15.00 waktu Ambon. Ketika Dian mengatakan bahwa Dian sudah selesai kuliah, selanjutnya beta dan dian bermain tebak-tebakan via sms. Karena merasa bosan Dian mengajak untuk berdebat. Beta pun meresponi baik permintaan Dian ini.
Perdebatan via sms dengan topik pariwisata di bekali sms semalam lewat perkataan sang dosen, beta pun meresponi pernyataan itu dengan tanggapan yang berbeda, beta mengatakan “ Kaka seng stuju soal sumber daya manusianya kurang, kayak dosen yang adik sampaikan. Karena Maluku punya sumberdaya manusia yang banyak cuman tidak diperhatikan malah didatangkan sumber daya dari luar Maluku kala sama papua. Orang asli daerah yang diutamakan”. Kalimat ini beta utarkan sesuai dengan penglaman beta ketika mengikuti seleksi bintara POLRI tahun 2007, ucapan yang slalu di lontarkan oleh pejabat pemerintah bahwa mengutamakan anak negeri. Namun hasilnya orang luar Maluku yang mendapat tempat lebih dalam penyeleksian calon bintara.
Dian yang memiliki keinginan setelah selesai studinya akan kembali membangun pariwisata di Maluku pun meresponi apa yang beta sampaikan. “Secara awam pariwisata di indonesia dapat disimpulkan sebagai pbyek yang disiapkan oleh pemilik wisata untuk ditonton oleh pelancong atau dengan kata lain umumnya adalah sebagai pariwisata budaya yang berpusat pada masyarakat, jadi kalau dilihat di wilayah indonesia timur itu memang betul kurang adanya sumberdaya manusia yang memadai karena kurangnya tenaga terdidik dan berpengalaman dan di bidang pariwisata tersebut karena di ambon misalnya, tidak terdapat lembaga pendidikan kepariwisataan. Dan juga yang pergi kuliah pariwisata misalkan di jawa setelah lulus mereka banyak keluar negri, selain itu banyak praktisi yang hanya mengandalkan pengalaman selama membuka usaha di bidang tersebut sedangkan pemberdayaan dari pemerintah kepada pelaku pariwisata tidak ada sama sekali”.
Jawaban yang lumayan panjang ketika diterima dengan HP yang fiturnya biasa. beta pun bingung untuk membalas tanggapan ini. dengan pengetahuan yang berbeda beta pun menguras otak untuk mengetik kata-kata di HP. Untungnya ada opa rudi yang dapat di ajak diskusi sehingga membuka pikiran beta. Tanpa lama beta pun membalasa sms Dian dengan menyimpulkan pokok-pokok yang disampaikan olehnya. “Pertama tenaga sumberdaya manusia ada tapi menghilang. Kedua fasilitas (lembaga pendidikan) tidak ada Di maluku. Ketiga lebih mencari keuntungan ketimbang pemberdayaan.. mmm he3x orang punya bidang ni e..., kalau gitu kk menambahkan. Pasca konflik pengunjung menurun karena soal keamanan di maluku, kedua setiap pengunjung yang datang pasti punya skejul. Misalnya mau ke banda direncanakan tiga hari tapi karena transportasi yang satu minggu satu kali misalnya membuat pengunjung ragu untuk datang.... pariwisata dimaluku bisa maju dan llebih baik ketika orang maluku sendiri bangun kenyamanan buat pengunjung”.
Sms ini sebenarnya membuat beta jadi canggung untuk berdebat, lebih lanjut karena seperti yang beta bilang lebih awal bahwa beta kurang memahami tentang pariwisata.
Namun danke (terima kasih) adik dian sudah memberi banyak masukan kepada beta. lewat perbincangan via sms ini. selanjutnya dian pun meresponi apa yang beta sampaikan. “Yaah betul sekali kak. Masalah transportasi juga merupakan suatu kendala pariwisata di ambon bisa maju yang penting bagaimana kita bisa memanfaatkan 4P (product, price, place, promotion) sangat sulit untuk mengembangkan roda kehidupan pariwisata agar sesuai dengan apa yang diharapkan namun bukan berarti tidak bisa. Jika kita membicarakan masalah pariwisata maka hal ini tak akan lepas dari bagaimana cara kita menjual dan memasarkan keindahan dan kekayaan pariwisata yang kita miliki di mata dunia”
Dari jawaban ini saya kembali mersponi dengan sedikit memberi argumen lewat apa yang saya baca di internet. Dan berdiskusi dengan salah satu teman saya di komunitas badati[1]. “Kk sempat browsing di internet banyak orang di seluruh dunia yang datang maupun belum pernah datang . sebagian sudah mengenal pariwisata di Maluku tapi yang jadi persoalan utama adalah keamanan jadi mari katong Islam- Kristen stop biking maluku manangis katong gandeng tangan bangun maluku sama-sama adik”
Dian merespon. “Ituuuu akang kk e katong harus damai jang mau terprovokasi katong hidup basudara, pela gandong baru kanapa harus ada rusuh-rusuh seperti bagitu. Katong maluku sudah saatnya maju”
“Spakat adik maju maluku n maju pariwisata”. Menjadi jawaban saya terakhir dalam perdebatan (diskusi) via sms ini.
Sungguh menjadi salah satu penglaman berharga bisa berdiskusi dengan adik Dian. Akhir yang baik seorang pemudi Tulehu dan beta pemuda saparua (Porto)bisa mendiskusikan tentang pariwisata di Maluku yang akhirnya membicarakan tentang Perdamian di Maluku.
Hal yang beta dapat dari diskusi ini adalah Pariwisata di Maluku yang begitu banyak, butuh pemuda-pemudi yang kreatif dan komitmen dengan keinginan mereka untuk kembali mangente (melihat) tanah Maluku ketika mencapai kesuksesan di tanah rantau, pemerintah harus lebih memperhatikan infrastruktur (transportasi) di daerah-daerah khususnya Maluku yang memiliki banyak keindahan alam serta bagi masyarakat Maluku keamanan tercipta bukan dari pemerintah saja tetapi juga orang Maluku (orang yang sudah menetap di Maluku seluruhnya) karena membangun Maluku adalah tanggung jawab bersama.
Akhir penulisan ini tanggal (1/12) beta minta Danke vor adik Dian semoga tujuan adik untuk membangun maluku lewat pariwisata bisa terwujud
Salam damai dari Timur untuk adik Dian Mardiana Kurniasih Ohorella di tanah rantau.
[1] Badati= salah satu komunitas yang bergerak di Ambon dari akar rumput (masyarakat) untuk menyuarakan tentang perdamaian. Badati sendiri memiliki arti secara harafiah adalah batanggong. Anggotanya dari pemuda/i salam dan sarane.
Minggu, 20 November 2011
Edit : Rudi Fofid
AMBON-Fakultas Teologi Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) Ambon melaksanakan kegiatan pembangunan spiritualitas, Sabtu (12/11). Sebagian besar mahasiswa teologi hadir dalam acara yang digelar di gedung Gereja Maranatha.
Pembangunan spiritualitas mahasiswa teologi ini menghadirkan sejumlah pembicara dari Fakultas Teologi UKIM. Mereka adalah Dekan Hobert Talaway, Pembantu Dekan III Tuty Relmasira, serta dua dosen yakni Alex Relmasira dan Sonny Hetharia.
Talaway dalam sambutannya menyatakan, seiring perkembangan zaman dengan permasalahan yang kian kompleks, Fakultas Teologi UKIM sebagai institusi edukatif Kristiani merasa perlu membentuk Pusat Pengembangan Spiritualitas Fakultas. Lembaga ini disebutnya, bertanggung jawab mengembangkan spiritualitas segenap sivitas akademika yakni mahasiswa, dosen, dan karyawan. Bahkan, Talaway berharap, pembinaan dan pengembangan spiritualitas juga melibatkan para alumnus dan jemaat.
Alex Relmasira mengkritik para pendeta masa kini yang ditengarainya sangat cerdas namun spiritualitasnya menurun. Dia berharap, para mahasiswa memiliki kecerdasan yang seimbang dengan spiritualitas.
“Dengan begitu, kita tidak dapat disamakan dengan seekor hewan,” kata Relmasira.
Sementara dosen lain, Sonny Hetharia mengarahkan mahasiswa supaya memiliki spiritualitas yang kuat. Dirinya meminta mahasiswa tidak kalah terhadap kesetiaan merpati dan kerja keras semut. (MO-01)
AMBON-Fakultas Teologi Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) Ambon melaksanakan kegiatan pembangunan spiritualitas, Sabtu (12/11). Sebagian besar mahasiswa teologi hadir dalam acara yang digelar di gedung Gereja Maranatha.
Pembangunan spiritualitas mahasiswa teologi ini menghadirkan sejumlah pembicara dari Fakultas Teologi UKIM. Mereka adalah Dekan Hobert Talaway, Pembantu Dekan III Tuty Relmasira, serta dua dosen yakni Alex Relmasira dan Sonny Hetharia.
Talaway dalam sambutannya menyatakan, seiring perkembangan zaman dengan permasalahan yang kian kompleks, Fakultas Teologi UKIM sebagai institusi edukatif Kristiani merasa perlu membentuk Pusat Pengembangan Spiritualitas Fakultas. Lembaga ini disebutnya, bertanggung jawab mengembangkan spiritualitas segenap sivitas akademika yakni mahasiswa, dosen, dan karyawan. Bahkan, Talaway berharap, pembinaan dan pengembangan spiritualitas juga melibatkan para alumnus dan jemaat.
Alex Relmasira mengkritik para pendeta masa kini yang ditengarainya sangat cerdas namun spiritualitasnya menurun. Dia berharap, para mahasiswa memiliki kecerdasan yang seimbang dengan spiritualitas.
“Dengan begitu, kita tidak dapat disamakan dengan seekor hewan,” kata Relmasira.
Sementara dosen lain, Sonny Hetharia mengarahkan mahasiswa supaya memiliki spiritualitas yang kuat. Dirinya meminta mahasiswa tidak kalah terhadap kesetiaan merpati dan kerja keras semut. (MO-01)
Kamis, 17 November 2011
Rudi Fofid sang Inspirator Tanpa Titel
Langgur 17 agustus
1964, tanggal bersejarah bagi seorang tentara yang bermarga Fofid karena di
anugrahkan seorang anak laki-laki yang dinamakan Rudi Fofid. Nama yang sangat
indah dengan sejumlah talenta yang dimiliki.
Rudi Fofid atau yang
biasa kita kenal dengan opa ini, memiliki sejumlah pengalaman sejak masa kecil
hingga saat ini. SD nasional Katolik Labuha menjadi pilihan awal untuk mengecam
pendidikan.
Pada masa ini opa
rudi sudah memiliki cita-cita untuk menjadi seorang wartawan. Dapat kita
rasakan lewat kegemarannya membaca majalah sikuncung yang setiap bulan di
berikan oleh sang ayah.
Dalam majalah
sikuncung terdapat puisi-puisi yang di tulis oleh anak-anak lain dan dari sini
motifasi untuk menulis mulai terasah. Dalam diri opa pada masa ini mengatakan
bahwa, kenapa mereka bisa saya tidak bisa. Semangat opa ini mulai memberikan
kontribusi awal opa untuk menulis.
Barang berharga dalam
rumah mungil di langgur tak banyak namun satu dari beberapa barang yang ada,
opa memilih mesin ketik menjadi teman terdekatnya. Dari sini opa mulai
berekspresi dengan mengetik cerita-cerita tentang saudara-saudarnya. Dengan
dibantu sang ayah yang juga adalah guru pertama opa.
Ketika beranjak ke
SMP negeri Labuha, opa kembali mengasah talenta yang diberikan oleh sang
Khalik. Di tengah keadaan ibu kota kabupaten yang belum terjamah transportasi,
Opa mulai menulis puisi dan dikirim ke Jakarta tahun 1977-1978. Masa-masa muda
opa yang memiliki loyalitas terhadap seni sastra ditunjukan lewat cerita
sederhana yang disampaikan, pada masa ini opa tidak pernah jajan. uang yang
diberikan, opa pakai buat beli perangko, ujar opa.
SMA Xaverius ambon menjadi pilihan berikutnya
bagi opa untuk mengecam pendidikan. Di persekolahan Katolik ini, sesuai dengan
besiknya opa. Ia mulai mengurus mading dan buletin sekolah.
Setelah lulus opa
melanjutkan studinya di Universitas Pattimura, fakultas pertanian, jurusan hama
penyakit. Dsini opa mulai mengurus media UNPATTI dan menjadi anggota
organisasi, misalnya PMKRI dan GMKI tahun 1983.
Mantan Anggota warkat pastoral (buletin uskup
Amboina) ini juga menagalami proses yang begitu panjang sehingga pada semester
akhir (skripsi) harus dinyatakan drop out. Namun langkah juang sang inpirator
tak henti disini. Pada tahun 1993 opa bergabung bersama 15 teman lainnya di
media suara maluku. Hingga Tiga bulan kemudian opa diangkat menjadi redaktur.
Dalam prestasi yang
ada opa tidak pernah mendapatkan juara, namun opalah yang menjadi juri bagi
setiap peserta lomba sastra. Selain itu juga opa melakukan pelatihan-pelatihan
jurnalis di tingkat SMA maupun mahasiswa. Hal ini dikarenakan opa sangat
mengerti dengan kode etik wartawan.
Tahun 1999 opa jatuh
cinta dan mempersunting seorang wanita cantik yang bernama Ketty renwarin, dan
di anugrahi empat anak perempuan yang cantik-cantik. Dan hingga saat ini opa menjadi wakil pimpinan redaksi koran suara
maluku.
Dikesempatan yang
sama ketika diwawancarai, opa menyampaikan harapan bagi para wartawan muda.
Menulis itu gampang tetapi yang menjadi terpenting adalah kode etik. Inilah
dasar seseorang wartawan menjadi profesional. Ketika dasarnya baik maka
penulisan akan sangat baik, ujar opa rudi.
Selasa, 08 November 2011
Temaram saksi kunci
Temaram adalah bulan sabit
Yang tak tajam cahayanya
Temaram adalah kunang-kunang yang
Melihat pelakon domino
Dan menenemani tikus got
Yang mengais sampah
Temaram adalah pohon sagu yang menjerit marah
Di petuwanannya
Ketika melihat padi yang bersorak gembira
Di sekitar sungai yang membentuk orkestra
Temaran meneteskan air mata ketika melihat setiap anting-anting yang menari
Untuk menunjukan kilauan yang berbising dan berasap
Di tengah keheningan sepotong balok
Temaram menghisap sebatang rokok
Dan menyumburkan asap di setiap
Jiwa-jiwa rerumputan muda
Agar terinfeksi dengan setiap polusi jiwa
Karena kekeringan darah merah
Temaram adalah teropong tua yang melihat rintihan tinta pena yang redup
Ketika menyaksikan payung menari dengan lambayan pohon-pohon coklat
Temaram adalah saksi kunci pengadilan untuk menyampaikan
Setiap penglihatan, dan jeritan
Namun temaram seperti semut merah yang kehilangan arah
Untuk menemukan gubuknya
Karena banyak tanaman, binatang dan benda yang tak bernafas
yang membius sang saksi kunci.
Langganan:
Postingan (Atom)



