Tari Orlapei merupakan salah satu peninggalan seni budaya dari Portugis yang berfariasi. Tarian ini adalah tarian penyambutan para tamu kehormatan pada acara-acara Negeri/Desa di Maluku Tengah. Pada umumnya menggambarkan suasana hati yang gembira dari seluruh masyarakat terhadap kedatangan tamu kehormatan di Negeri/Desa-nya, dan menjadi ungkapan Selamat Datang. Kombinasi pola lantai dan gerak serta rithem musik lebih memperkuat ungkapan betapa seluruh masyarakat Negeri/Desa setempat merasa sangat senang dengan hadirnya tamu kehormatan di Negeri/Desa mereka.Tarian ini menggunakan properti “gaba-gaba” (bagian tangkai dari pohon sagu/rumbia sebagai makanan khas rakyat Maluku, dan dalam dialek Maluku disebut “jaga sagu”) Diiringi alat musik tradisional rakyat Maluku, yaitu : Tifa, Suling Bambu, Ukulele, dan Gitar.Jumat, 30 September 2011
Tari Orlapei
Tari Orlapei merupakan salah satu peninggalan seni budaya dari Portugis yang berfariasi. Tarian ini adalah tarian penyambutan para tamu kehormatan pada acara-acara Negeri/Desa di Maluku Tengah. Pada umumnya menggambarkan suasana hati yang gembira dari seluruh masyarakat terhadap kedatangan tamu kehormatan di Negeri/Desa-nya, dan menjadi ungkapan Selamat Datang. Kombinasi pola lantai dan gerak serta rithem musik lebih memperkuat ungkapan betapa seluruh masyarakat Negeri/Desa setempat merasa sangat senang dengan hadirnya tamu kehormatan di Negeri/Desa mereka.Tarian ini menggunakan properti “gaba-gaba” (bagian tangkai dari pohon sagu/rumbia sebagai makanan khas rakyat Maluku, dan dalam dialek Maluku disebut “jaga sagu”) Diiringi alat musik tradisional rakyat Maluku, yaitu : Tifa, Suling Bambu, Ukulele, dan Gitar.Rabu, 14 September 2011
ada satu carita
tentang realita
di mana hidop orang sudara
bergelut dengan dara
katong pung moyang
dudu carita deng Pati
angka sumpah for ana cucu pung hidop
sopi, parang deng dara jadi saksi..
for angka satu ikatan
pela gandong
macam ikang deng colo-colo
akang sadap sampe k tulang
dolo-dolo mulai ilang
sejak katong makang padi
lupa sagu sebagai tradisi
ana cucu sakarang kalakuang cuka,
asam paskali......
dolo katong manis
sakarang katong padis
gandong bunu gandong
pela bakar pela
ingatang katong pung moyang
yang dudu deng sangsara
demi hidop sakarang
Maluku itu damai
Maluku itu manis
mari katong masohi
walang deng tapalang
for makang papeda deng colo-colo
bukang padi deng aer mata...
tentang realita
di mana hidop orang sudara
bergelut dengan dara
katong pung moyang
dudu carita deng Pati
angka sumpah for ana cucu pung hidop
sopi, parang deng dara jadi saksi..
for angka satu ikatan
pela gandong
macam ikang deng colo-colo
akang sadap sampe k tulang
dolo-dolo mulai ilang
sejak katong makang padi
lupa sagu sebagai tradisi
ana cucu sakarang kalakuang cuka,
asam paskali......
dolo katong manis
sakarang katong padis
gandong bunu gandong
pela bakar pela
ingatang katong pung moyang
yang dudu deng sangsara
demi hidop sakarang
Maluku itu damai
Maluku itu manis
mari katong masohi
walang deng tapalang
for makang papeda deng colo-colo
bukang padi deng aer mata...
Jumat, 19 Agustus 2011
23:38. Tulisan ini dibuat, sambil ditemani sebtang rokok. Mohon maaf jika terdapat kesalahan dalam penulisan dan bahasa yang tidak begitu baik karena saya kurang begitu paham tentang EYD dalam bahasa Indonesi, sebagi buktinya mata kuliah sastra saya mendapatkan nilai yang kurang memuasakan. “Maaf ya sedikit curhat hehehehe” .
Selingkuh dan perempuan, judul yang tepat untuk mengawali pemikiran ini sehingga tertuang lewat jemari tangan dalam pengetikan. Dan diskusi yang dilakukan dalam ibadah AM GPM ranting Diaspora menjadi titik tolak kenapa penulisan ini merasa perlu.
Saya akan sedikit mencaritakan tentang diskusi yang dibawakan. Dalam diskusi ini terdapat realita sepasangan suami isteri yang memiliki kedua orang anak, dalam proses yang panjang sang suami berselingkuh, kemudian sang pemimpin ibadah yang sekaligus telah membawakan diskusi menanyakan tiga pertanyaan. Pertanyaan yang menjadi penting bagi saya adalah bagaimana sikap seorang isteri ketika mendengar dari sang suami kalau suminya telah berselingkuh. Banyak jawaban yang disampaikan, namun hal yang menarik adalah pada jawaban saudari-saudariku (perempuan). Yaitu, Maafkan, mau bagimana lae kalau seng bagini b ana dua bagimana, b maafkan sebab ada tertulis apa yang disatukan Tuhan tidak dapat dipisahkan, b butuh waktu, dan tidak segan-segan ada pula yang menjawab b menerima dengan aktif (ada pot bunga di samping b lempar dolo, b kasi kaluar samua baru nanti dudu bicara bae-bae). Jawaban-jawaban ini menjadi hal yang cukup jujur dan disisi lain menjadi suatu pemikiran yang tidak adil terhadap kaum perempuan. Entah karena budaya patriakhi[1] sehingga membentuk cara pandang perempuan, ataukah pengaruh Alkitab yang sebenarnya dalam proses penulisannya terbungkus oleh budaya patriakhi (bnd 1kor 14: 34). Era saat ini timbul pemikiran-pemikiran baru oleh tokoh-tokoh perempuan yang menyuarakan tentang GENDER[2], atau kesetaraan. Apakah jawaban di atas ini mengindikasikan kesetaraan. Marah kecewa dan sebagainya adalah hal yang manusiawi namun jawaban yang “menerima”, manusiawikah jawaban ini ataukah suatu ketakutan dari teman-temanku ini namun bisa juga karena cinta. Namun pertanyaan selanjutnya sampai kapan perempuan harus menjadi korban, dalam penulisan ini saya tidak akan menawarkan kekerasan dan juga penerimaan secara sukarela yang berlandaskan ketakutan dan Cinta saja. Untuk itu saya merasa perlu untuk melihat arti selingkuh dan perempuan dalam poin berikutnya.
Selingkuh
Apa sih selingkuh ini?, dalam konteks pacaran kadang kita selaku pemuda-pemudi melakukan hal demikian, namun benarkah dalam proses berpacaran ini dinamakan selingkuh dan dapat disamakan dengan konteks pernikahan. Saya penulis meminta maaf tidak dapat mendefenisikan arti selingkuh ini dengan baik menurut pemikiran para ahli dan kamus bahasa indonesia. Namun saya akan mencoba mengartikan kata selingkuh dengan pandangan saya sendiri, dan semoga ketika karya tulis ini natinya di posting melalui blog saya. Saudara-saudari boleh menambahkan arti selingkuh menurut pandangan saudara-saudari.
Selingkuh bagi saya adalah suatu perbuatan “penghianatan” terhadap suatu janji yang suci, selingkuh juga mengindikasikan tentang perbuatan seseorang (laki-laki maupun perempuan) yang tidak merasa puas dengan apa yang dia “miliki”, selingkuh juga adalah suatu hal yang manusiawi, proses yang mendebarkan, menyenangkan namun dalam waktu sesaat. Pernahkah kita merasakan hal seperti ini, huuuuuuuuuuuuuuuuuuffffffff, relatif untuk menjawab proses ini. dan saya berharap nantinya ketika kita telah terikat dengan janji suci dalam altar pernikahan hal seperti ini tidaklah terjadi. Namun bila terjadi yaaaaaaaaaaaa selamat menikmati persaaan yang mendebarkan dan menyenangkan dalam waktu sesaat.
Berbicara tentang selingkuh juga merasa penting untuk saya menanyakan kenapa proses perselingkuhan ini terjadi, dari jawaban salah seorang pembinan AM GPM ranting diaspora, hal ini terjadi karena efisiensi waktu, yang mana waktu berkumpul dengan keluarga sangat sedikit ketimbang waktu bersama teman-teman di tempat kerja. untuk itu kedekatan menjadi berubah dan menciptakana dilema dalam perasaan (kalimat terakhir tambahan dari saya). Namun disisi lain kata seorang dosen saya perselingkuhan adalah akibat, yang mana ketika kenyamanan tidak lagi ditemukan dalam keluarga maka seseorang akan mencari tempat yang menurut dia lebih nyaman. Misalnya, pacar yang posesif apakah kita nayaman?, isteri atau suami yang sukanya marah-marah, apakah ini nyaman. Saya pribadi akan menjawab TIDAAAAAAAAAAAAAAAK. Hehehehehehehe......... mari kita mengoreksi diri kita lebih awal sebelum perselingkuhan ini terjadi (lebih baik mencegah dari pada mengobati).
Perempuan
Dalam mengartikan istilah perempuan teknisnya tidak jauh berbeda dengan penjelasan diatas, saya akan mencoba mengartikannya dengan pandangan saya sendiri. perempuan adalah ibu saya, adik saya (viona), saudari-saudari saya dalam AM, “sahabat terbaik saya dikampus maupun SMA dulu” dan perempuan adalah “pacar”?????? saya yang nantinya akan menjdai isteri saya...... heheheheheh www.ngarep.com .... menurut cerita dalam Alkitab perempuan diciptakan, ketika Tuhan melihat kalau laki-laki tidak seharusnya sendiri, dan kemudian diambil tulang rusuk dari laki-laki hingga Tuhan menciptakan makhluk yang adalah perempuan. Bagi saya proses terjadinya perempuan bukanlah hal yang biasa, yang berambut panjang dan disebut perempuan bagi saya adalah anugrah[3], adalah hadiah Tuhan kepada laki-laki. Tanpa sosok perempuan laki-laki hanyalah sendiri dan hampa. Uniknya lagi kenapa Tuhan menciptkana perempuan dari tulang rusuk, bagi saya tulang rusuk manusia terdapat ditengah-tengah tubuh manusia untuk itu perempuan bukanlah makhluk yang tertinggi dari laki-laki dan apalagi dibawah laki-laki. Tengah mengindikasikan kesetaraan, coba kita berpikir sesaat ketika kita merangkul memeluk dan menjaga seseorang posisi yang paling nyaman adalah ketika orang itu berada tepat di tulang rusuk kita. Maka saya meras sudah jelas bahwa perempuan adalah hadiah, sama atau setara (tengah) dan perlu pelukan dan perlindungan oleh sosok laki-laki.
Namun disisi lain saya penulis juga harus mengakui bahwa sosok seorang perempuan memiliki perasaan yang lebih kuat ketimbang laki-laki, karena perempuan cendrung berfikir dengan air mata, ketimbang fisik, ini bukanlah suatu cara yang cengeng[4]. Namun kelebihan yang diberikan oleh Tuhan kepada sosok perempuan. Seorang perempuan ketikan menegluarkan air mata maka ia akan merasa lega, dan laki-laki sendiri jarang untuk mengeluarkan air mata malahan lebih ke arah miras, sentuhan fisik (baku pukul) dan tidak jarang ujung-ujungnya selingkuh. Maka kesimpulan yang kita dapat adalah perempuan lebih setia ketimbang laki-laki.
Jawaban kasus
Jawaban untuk pertanyaan dalam kasus yang didiskusikan dalam ibadaha AM GPM ranting Diaspora (18 Agustus 2011), dari sedikit pengertian dan refleksi selingkuh dan perempuan di atas adalah pertama kita harus menyadari siapa sosok perempua itu, kemudian bagaimana kita memahami arti pernikahan yang adalah janji suci antara laki-laki dan perempuan yang seharusnya bukan menjadi momok untuk ditakuti tetapi menjadi motifasi sebagai tanggung jawab bersama. Dan dalam kasus ini selingkuh telah terjadi bagaimana sikap perampuan untuk menjawab ini. Dalam hal ini saya akan mencoba menjawab dalam dua sosok. Yang pertama menempatkan diri sebagai seorang perempuan. Dan berani memaafkan sosok laki-laki yang berselingkuh ini bukan karena takut dan terlanjut cinta tetapi memaafkan sebagai sosok perempuan yang berhikmat, dan perempuan yang memiliki kekuatan (super womeman), yang berfikir dengan perasaan yang sejati (butuh kesendirian dan perenungan). Jawaban yang kedua, saya akan menempatkan diri sebagai sosok laki-laki yang melihat kasus ini. wahai anugrah Tuhan yang terindah (perempuan) janagan pernah takut dengan statusmu, jadilah motifator bagi semua makhluk, sebab dirimu (perempuan) bukanlah sosok yang lebih rendah atau lebih tinggi, tapi dirimu adalah sosok yang akan di puji dan dilindungi, untuk itu janagn pernah berkecil hati dan takut untuk merubah dunia.............................................. 02:25..................................... saya kehabisan kata untuk mengungkapkan sosokmu (perempuan)......... tulisan ini dibuat untuk saudara dan saudariku yang berani menyuarakan perempuan dan mencintai sosok perempuan dengan tulus..................... (^_-)...... .....AM GPM ranting Diaspora .......Tete Manis Sayang.........02:30...
[1] Patriakhi adalah salah satu budaya yang di antut oleh masyarakat dulu bahkan hingga saat ini, yang mana dalam prosesnya laki-laki menjdai lebih penting ketimbang perempuan.
[2] Gender adalah jenis kelamin sosial, lebih jelasnya adalah kesetaraan antara laki-laki dan perempuan
[3] Anugrah adalah pemberian Allah dengan sukarela dan bagaimana kita menghargai pemberian Allah itu.
[4] Cengeng adalah salah satu istilah yang dipakai dalam masyarkat ambon (maluku) untuk menunjukan kalau orang tersebut sering mengeluarkan air mata.
Selasa, 16 Agustus 2011
konseling lintas budaya
PEMBAHASAN
A. Dinamika Masyarakat dan Transformasi Kebudayaan
Disadari atau tidak, dinamika masyarakat berlangsung begitu cepat. Dinamika masyarakat dan transformasi sosio-kultural disebabkan oleh kemajuan peradaban manusia, terutama kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Peradaban masyarakat dunia, mengalami beberapa gelombang transformasi, dimulai dengan peradaban agrikultural dan industrial baru kemudian peradaban informasi. Peradaban informasi ini, melahirkan era “globalisasi”. Dalam era globalisasi ini, manusia mengalami perubahan yang begitu cepat dalam segala hal. Globalisasi meningkatkan pluralitas dalam segala hal, meningkatkan mobilitas baik dalam hal arus barang, layanan, modal, ide, budaya, manusia dan sebagainya. Dengan demikian, globalisasi memungkinkan pertemuan manusia dengan latar belakang budaya yang berbeda-beda, dalam satu lokasi atau wilayah. Dalam era globalisasi ini, manusia mengalami perubahan yang begitu cepat dalam segala hal. Misalnya, dari aspek ekonomi, berkembang perdagangan bebas, kerja sama regional dan internasional. Dalam aspek politik, proses globalisasi merupakan proses demokratisasi dan muncul kesadaran akan penegakan HAM, dan banyak contoh lain.
Menghadapi dinamika dan perubahan tersebut, tidak semua masyarakat memiliki kemampuan yang sama. Ada masyarakat yang dapat menyesuaikan, mengantisipasi dan menghadapi perubahan, tetapi ada pula yang tidak mampu. Sehingga, menyebabkan mereka mudah mengalami ketegangan dan tidak tahu arah. Bersama perubahan yang besar dan cepat dalam masyarakat, terbawa pula perubahan budaya dengan nilai-nilainya. Melihat adanya dinamika yang terjadi dalam masyarakat dan transformasi budaya tersebut, maka konseling lintas budaya atau konseling multi budaya (counseling a cross culture) menjadi nyata relevansinya dan urgensinya untuk diterapkan dalam pelayanan bimbingan dan konseling. Karena itu, Mukthar Bukhori menyarankan bahwa layanan BK mengenai transformasi sosial, budaya, yaitu layanan BK yang terkait dengan adanya perubahan sosial budaya, serta mempertimbangkan kondisi sosial budaya.
B. Latar Belakang Konseling Lintas Budaya
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah memicu lajunya perkembangan peradaban manusia, yang berdampak pada mobilitas penduduk, modal, nilai dan ideologi dsb. dari suatu tempat ke tempat yang lain. Akibatnya, tercipta suatu pemukiman dengan beragam budaya. Keragaman budaya ini pada kondisi normal dapat menumbuhkan keharmonisan hidup, namun dalam kondisi bermasalah dapat menimbulkan hambatan dalam berkomunikasi dan penyesuaian antar budaya.
Adanya keragama budaya merupakan realitas hidup, yang tidak dapat dipungkiri mempengaruhi perilaku individu dan seluruh aktivitas manusia, yang termasuk di dalamnya adalah aktivitas konseling. Karena itu, dalam melakukan konseling, sangat penting untuk mempertimbangkan budaya yang ada. Namun, dalam kenyataannya, kesadaran budaya dalam praktek konseling masih sangat kurang. Hal ini sangat berbahaya konseling yang tidak mempertimbangkan budaya klien yang berbeda akan merugikan klien. Menurut Freire, pendidikan yang tidak melihat budaya klien adalah pendidikan yang menindas. Kesadaran budaya harus menjadi tujuan pendidikan, termasuk konseling yang lebih mengena.
Dua komponen pokok dalam konseling yaitu klien dan konselor. Hubungan klien dan konselor selalu dipengaruhi oleh budaya dan latar belakang sejarah klien dan latar belakang sejarah konselor. Komponen lain yang juga penting dalam konseling yaitu teori, tempat layanan dan proses konseling. Tempat layanan konseling berlangsung juga mempunyai nilai budaya sendiri yang juga penting dipertimbangkan dalam melakukan konseling.
Seluruh komponen konseling ini membentuk proses konseling dan perumusan tujuan konseling yang diwarnai budaya klien, konselor, lingkungan dan teori yang digunakan. Dalam perkembangannya, hampir selalu menggunakan pendekatan yang sarat nilai-nilai barat, karena itu pendekatan yang digunakan tidak selalu efektif dipraktekkan, terutama dalam setting yang berbeda dengan budaya barat. Kenyataan seperti ini yang mendorong beberapa tokoh konseling (1970) untuk mengembangkan konseling lintas budaya.
Dari uraian ini, dapat disimpulkan beberapa latar belakang perlunya konseling lintas budaya:
· Adanya kecenderungan budaya global dan transformasi budaya sehingga
masyarakat semakin majemuk dengan keragaman budayanya
· Setiap budaya membentuk pola kepribadian, pola bertingkah laku secara
khusus, termasuk dalam proses konseling
· Adanya proses akulturasi atau percampuran antar budaya
· Adanya berbagai keterbatasan, hambatan dalam praktek konseling yang
selama ini dilakukan, terutama pendekatan-pendekatan yang sarat nilai-nilai
barat, yang kurang mempertimbangkan aspek budaya yang lain
· Adanya berbagai pendekatan konseling yang bersumber dari nilai-nilai budaya asli masyarakat dan berkembang dalam praktek konseling di masyarakat
C. Pengertian konseling lintas budaya
Sekitar tahun 1970 gagasan tentang konseling lintas budaya ini mulai muncul namun belum begitu dikenal karena tulisan-tulisan tentang konseling lintas budaya masih sangat minim, sehingga formulasi yang mapan belum ditemukan. Dampak dari hal ini maka orang-orang mulai menyalah artikan konseling lintas budaya, mengkritisi dan sebagian orang bersikap skeptis.
Bila dilihat secara singkat dan membaginya dalam dua istilah maka konseling lintas budaya diartikan sebagai konseling yang dilakukan dalam budaya yang berbeda. Dalam kutipan para ahli, Tolbert, Belkin dan Brammer mengemukakan bahwa pada umumnya koseling menekankan pada permasalahan dan penghargaan pada keunikan klien, penentuan diri sendiri, nilai kebebasan, aktualisasi, potensi, orientasi masa depan, peningkatan martabat semua tanpa melihat budaya .
Ada beberapa elemen yang sama bila dilihat dalam mendefenisikan konseling, antara lain:
Ø Konseling adalah hubungan antar pribadi,
Ø Konseling adalah suatu proses,
Ø Konseling dirancang untuk membantu induvidu membuat keputusan
dan memecahkan masalah, dan
Ø Dalam konseling terlibat dua orang atau lebih yang di dalamnya, yaitu
konselor dan klien.
Dari pengertian-pengertian di atas tidak terlihat secara eksplisit kata kebudayaan disebutkan dalam defenisi konseling, namun kenyataan yang ada kita adalah manusia yang hidupdi dalam budaya tertentu, bahkan menjadi pelaku-pelaku dalam proses konseling karena itu dapat dikatakan kebudayaan itu ada dalam individu-individu yang terlibat dalam konseling, bahkan segala aspek dalam konseling terkait dengan budaya.
Dalam konseling lintas budaya ada juga permasalahn yang muncul yaitu perbedaan pengertian. Misalnya, ada beberapa parah Ahli yang mengemukakan bahwa proses konseling lintas budaya adalah konseling yang diberikan kepada mereka yang sama budayanya dengan konselor, namun memiliki peranan yang berbeda. Disisi lain salah seorang ahli mengemukakan bahwa konseling lintas budaya terjadi apabila suatu proses konseling terdapat perbedaan budaya antara konselor dan klien. Perbedaan antara keduanya muncul sebagai suatu proses hasil sosialisasi dalam kebudayaan yang berbeda (locke, 1990).
Asumsi dasar konseling lintas budaya adalah bahwa individu yang terlibat dalam konseling itu hidup dan dibentuk oleh lingkungan budaya, baik keluarga maupun masyarakat. Perbedaaan yang dimiliki sebenarnya meliputi berbagai macam hal misalnya agama, jenis kelamin, pekerjaan, suku bangsa dan lainnya. Disamping itu faktor masyarakat menjadi hal yang begitu penting. Untuk itu dapat disimpulkan bahwa perbedaan antara konselor dan klien bukan hanya mencakup bangsa tetapi juga mencakup aspek kebudayaan yang luas.
Dengan uraian-uraian diatas maka kita dapat mendefenisikan konseling lintas budaya sebagai suatu proses konseling yang melibatkan antara konselor dan klien yang berbeda budayanya, dan dilakukan dengan memperlihatkan budaya subyek yang terlibat dalam konseling. untuk itu konselor diharapkan mengetahui aspek-aspek khusus dalam proses konseling dan dalam gaya konseling, agar proses pendampingan menjadi sangat terampil.
Konsep Keslamatan Menurut Iman Kristen
Nama : fileks Talakua
Mengenai definisi syalom atau eirene, damai sejahtera dan juga soteriologi (keselamatan) terdapat berbagai pandangan yang hampir sama, tetapi juga memiliki perbedaan dari berbagai para ahli/teolog. Di dalam teologi sistematik, istilah syalom selalu berhubungan dengan soteriologi mengenai suatu keadaan yang ideal, aman, damai, tenang. Hal ini dipahami sebagai suatu pemberian yang berasal dari Allah dan dalam sebuah perencanaan untuk menolong setiap orang, yang lemah, berdosa/kesalahan dan membawa mereka kepada sebuah keadaan yang damai, abadi bersama Tuhan. Eirene Kristen seperti yang telah dikemukan selalu menghadirkanYesus sebagai pemberi damai sejahtera.
DR. C. Groenen,[1] mewartakan damai sejahtera (Eirene, syalom), umat Kristen terutama para pemimpinnya, selalu mewartakan damai sejahtera, eirene dengan berbagai bentuk istilah, ungkapan dan lambang. Umat Kristen terus berkata, bahwa manusia oleh Allah melalui Yesus Kristus sudah menerima damai sejahtera (eirene), asal saja mau percaya. Hal ini menunjukkan bahwa damai sejahtera, syalom, eirene telah dihadirkan melalui Yesus Kristus namun dibutuhkan pertobatan dari manusia agar dapat memulihkan kembali hubungannya dengan Allah.
John G. Reisinger mengungkapkan empat point penting yang berhubungan dengan damai sejahtera yang diyakini oleh umat Kristiani :
1. Seorang manusia mesti menyesal, bertobat serta percaya kepada Injil untuk diselamatkan
2. Semua yang menyesal, bertobat, dan percaya pada Injil akan diselamatkan
3. Pertobatan dan iman merupakan tindakan manusia secara tulus (dalam hal menerima Kristus)
4. Alkitab menyatakan bahwa manusia mesti menyesal, bertobat dan percaya untuk menerima damai sejahtera, tetapi juga dengan tegas menyatakan bahwa dosa alami manusia (pada saat Adam), tidak dapat dihapuskan.
Namun, apakah damai sejahtera (Syalom, Eirene) hanya bersifat pengampunan dan pertobatan secara vertikal? Hal ini muncul sebagai akibat dari kegelisahan misi syalom seperti itu tidak dapat menjawab realitas hidup manusia di dunia. Jika demikian, maka damai sejahtera selalu berkaitan dengan Allah. Di dalam Alkitab terdapat rangkaian sejarah istilah syalom yang diperuntukkan bagi umat manusia. Selain itu, syalom juga mengandung kesejahteraan baik lahir mau pun batin, baik di dunia mau pun di akhirat.
Tom Jakobs[2] menyatakan bahwa menyatakan bahwa Yesus, yang penuh Roh Allah, adalah perwujudan syalom Allah (keselamatan). Keselamatan itu pasti mempunyai arti eskatologis, tetapi sudah menjadi riil sekarang dalam tindakan Yesus untuk menyelamatkan orang. Keselamatan tersebut mempunyai arti Alkitabiah yakni damai sejahtera (eirene).
Menurut johanes calvin Keselamatan. Calvin sangat menekankan keyakinan bahwa keselamatan diperoleh hanya karena kasih karunia melalui iman (sola gratia dan sola fide). Selanjutnya, Calvin mengembangkan ajaran tentang keselamatan ini dalam suatu wawasan yang dikenal dengan istilah “predestinasi.” Secara sederhana predestinasi berarti bahwa jumlah dan jati diri dari orang-orang yang terpilih, yakni mereka yang diselamatkan sudah ditetapkan Allah yang berdaulat sebelum dunia diciptakan. Tentang hal ini muncul berbagai tanggapan. Perhatikanlah bagaimana Jacobus Arminius menanggapi wawasan “predestinasi” Calvin dan perbedaan antara keduanya :
Calvinisme dan Arminianisme adalah dua sistim teologi yang berupaya menjelaskan hubungan antara kedaulatan Tuhan dan tanggung jawab manusia dalam kaitannya dengan keselamatan. Calvinisme dinamai menurut John Calvin, teolog Perancis yang hidup dari tahun 1509 – 1564. Arminianisme dinamai menurut Jacobus Arminius, teolog Belanda yang hidup dari tahun 1560 – 1609.
Calvinisme berpegang pada kejatuhan total sementara Arminianisme berpegang pada kejatuhan sebagian. Kejatuhan total mengatakan bahwa semua aspek kemanusiaan sudah dikotori oleh dosa, karena itu manusia tidak dapat datang kepada Tuhan dengan kemauannya sendiri. Kejatuhan sebagian mengatakan bahwa setiap aspek kemanusiaan dikotori oleh dosa, tapi tidak sampai pada taraf di mana manusia tidak dapat beriman pada Tuhan dengan kehendaknya sendiri
Calvinisme berpegang pada pemilihan yang tanpa syarat sementara Arminianisme berpegang pada pemilihan bersyarat. Pemilihan tanpa syarat percaya bahwa Allah memilih orang-orang yang diselamatkan berdasarkan kehendakNya semata-mata, bukan berdasarkan apa yang ada pada individu-individu. Pemilihan bersyarat percaya bahwa Allah memilih invididu-individu untuk diselamatkan berdasarkan pengetahuan Allah mengenai siapa yang akan menerima Yesus sebagai Juruselamat.
Calvinisme berpegang pada penebusan yang terbatas sementara Arminianisme percaya pada penebusan yang tidak terbatas. (Dari ke lima poin, ini adalah yang paling kontroversial). Penebusan terbatas adalah kepercayaan bahwa kematian Yesus hanyalah bagi umat pilihan. Penebusan tak terbatas percaya bahwa Yesus mati bagi semua orang, namun kematiannya tidak akan efektif sampai orang yang bersangkutan percaya
Calvinisme berpegang pada anugrah yang tak dapat ditolak sementara Arminianisme berpegang pada anugrah yang dapat ditolak. Anugrah yang tidak dapat ditolak mengatakan bahwa ketika Tuhan memanggil orang untuk diselamatkan, pada akhirnya orang tsb akan datang kepada keselamatan. Anugrah yang dapat ditolak mengatakan bahwa Tuhan memanggil semua orang kepada keselamatan, namun banyak orang bersikeras dan menolak panggilan ini.
Calvisnisme berpegang pada ketekunan orang-orang kudus, sementara Arminianisme berpegang pada keselamatan yang bersyarat. Ketekunan orang-orang kudus merujuk pada konsep bahwa seseorang yang telah dipilih Allah akan bertahan dalam imannya dan tidak akan pernah menolak Kristus atau berbalik daripadaNya. Keselamatan yang bersyarat adalah pandangan bahwa seseorang yang percaya pada Kristus, dapat, dengan kehendak bebasnya, berbalik dari Kristus dan karena itu kehilangan keselamatan.
Konteks
Dari berbagai macam pandangan di atas bila kita melihat salah satu konteks yang ada dalam realita saat ini misalnya pada konteks peperangan yang terjadi di salah satu kepulauan di Saparua yakni desa Porto dan Haria yang mana pertikaian kedua dosa ini sudah berlangsung cukup lama. Pertanyaannya konsep keslamatan seperti apa yang ditampilkan pada konteks ini?, dalam kitab PL peperangan yang terjadi menghadirkan syalom yang di artikan sebagai keadaan aman, hal ini bisa juga dipakai dalam konteks peperangan kedua desa ini, namun perlu diperhatikan hal yang lain adalah bagaiman kita sebagai pengikut Kristus ini menyikapi keslamatan yang ada disana?. Upaya-upaya keslamatan yang dilakukan bukan lagi hanya berfikir karena persoalan yang terjadi tidaklah semudah yang tertulis dalam buku. Banyka penderitaan, banyak ketakutan, dan banyak tangisan yang terjadi. Namun kita sebagai sesama saudara kristiani masih tetap duduk diam, mebisu. Inikah keslamatan?. Pemuda kristiani, dan berbagai macam organisasi marilah kita mengartikan keslamatan dalam konteks seperti ini. Sehingga kedamaian itu terwujud dan menghadirkan Syalom Allah dalam hidup kita dan kedua desa ini.
Konteks yang lain juga adalah kemajemukan dimana banyak terdapat perbedaan pandangan keslamatan dari pemikiran masyarakat yang tergolong dalam beberapa agama. Jika bertolak dari pemikiran Calvin maka pandangan kita sebagai umat kristiani yang sudah menerima keslamatan kemudian meresponinya dalam kehidupan yang plural, hal ini perlu dikritisi terhadap pandangan calvin yang mengatakan bahwa diluar Kristen tidak ada keslamatan, karena hal ini bersifat sangat eksklusif. Umat kristen saat ini lebih menerima berbagai macam perbedaan dan mengakui berbagaia macam pandangan keslamtan oleh tiap-tiap Agama. Hal yang perlu dilihat kemudian adalah bagai mana iman itu bekerja untuk meyakini iman kita yang bahwa keslamatan itu ada. Bagi pemikiran kristen sendiri tentang keslamtan adalah bukan hanya percaya tetapi bagaimana mengaplikasikan iman kristen yang sudah diselamtkan ini kepada seluruh umat atau masyarakat agar menghadirkan Syalom Allah yang baik. Untuk itu mari kita meresponikeselamatan dengan perbuatan dan bukan bersifat eksklusif untuk mengatakan keslamatan hanya milik kita sebagai umat pilihan.
Langganan:
Postingan (Atom)
