Label

Minggu, 20 November 2011

Edit : Rudi Fofid

AMBON-Fakultas Teologi Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) Ambon melaksanakan kegiatan pembangunan spiritualitas, Sabtu (12/11). Sebagian besar mahasiswa teologi hadir dalam acara yang digelar di gedung Gereja Maranatha.
Pembangunan spiritualitas mahasiswa teologi ini menghadirkan sejumlah pembicara dari Fakultas Teologi UKIM. Mereka adalah Dekan Hobert Talaway, Pembantu Dekan III Tuty Relmasira, serta dua dosen yakni Alex Relmasira dan Sonny Hetharia.
Talaway dalam sambutannya menyatakan, seiring perkembangan zaman dengan permasalahan yang kian kompleks, Fakultas Teologi UKIM sebagai institusi edukatif Kristiani merasa perlu membentuk Pusat Pengembangan Spiritualitas Fakultas. Lembaga ini disebutnya, bertanggung jawab mengembangkan spiritualitas segenap sivitas akademika yakni mahasiswa, dosen, dan karyawan. Bahkan, Talaway berharap, pembinaan dan pengembangan spiritualitas juga melibatkan para alumnus dan jemaat.
Alex Relmasira mengkritik para pendeta masa kini yang ditengarainya sangat cerdas namun spiritualitasnya menurun. Dia berharap, para mahasiswa memiliki kecerdasan yang seimbang dengan spiritualitas.
“Dengan begitu, kita tidak dapat disamakan dengan seekor hewan,” kata Relmasira.
Sementara dosen lain, Sonny Hetharia mengarahkan mahasiswa supaya memiliki spiritualitas yang kuat. Dirinya meminta mahasiswa tidak kalah terhadap kesetiaan merpati dan kerja keras semut. (MO-01)

Kamis, 17 November 2011

Rudi Fofid sang Inspirator Tanpa Titel

 
Langgur 17 agustus 1964, tanggal bersejarah bagi seorang tentara yang bermarga Fofid karena di anugrahkan seorang anak laki-laki yang dinamakan Rudi Fofid. Nama yang sangat indah dengan sejumlah talenta yang dimiliki.
Rudi Fofid atau yang biasa kita kenal dengan opa ini, memiliki sejumlah pengalaman sejak masa kecil hingga saat ini. SD nasional Katolik Labuha menjadi pilihan awal untuk mengecam pendidikan.
Pada masa ini opa rudi sudah memiliki cita-cita untuk menjadi seorang wartawan. Dapat kita rasakan lewat kegemarannya membaca majalah sikuncung yang setiap bulan di berikan oleh sang ayah.
Dalam majalah sikuncung terdapat puisi-puisi yang di tulis oleh anak-anak lain dan dari sini motifasi untuk menulis mulai terasah. Dalam diri opa pada masa ini mengatakan bahwa, kenapa mereka bisa saya tidak bisa. Semangat opa ini mulai memberikan kontribusi awal opa untuk menulis.
Barang berharga dalam rumah mungil di langgur tak banyak namun satu dari beberapa barang yang ada, opa memilih mesin ketik menjadi teman terdekatnya. Dari sini opa mulai berekspresi dengan mengetik cerita-cerita tentang saudara-saudarnya. Dengan dibantu sang ayah yang juga adalah guru pertama opa.
Ketika di SD diberi tugas untuk mengarang, karangan opa mendapat pujian dari sekian murid yang ada.
Ketika beranjak ke SMP negeri Labuha, opa kembali mengasah talenta yang diberikan oleh sang Khalik. Di tengah keadaan ibu kota kabupaten yang belum terjamah transportasi, Opa mulai menulis puisi dan dikirim ke Jakarta tahun 1977-1978. Masa-masa muda opa yang memiliki loyalitas terhadap seni sastra ditunjukan lewat cerita sederhana yang disampaikan, pada masa ini opa tidak pernah jajan. uang yang diberikan, opa pakai buat beli perangko, ujar opa.
SMA  Xaverius ambon menjadi pilihan berikutnya bagi opa untuk mengecam pendidikan. Di persekolahan Katolik ini, sesuai dengan besiknya opa. Ia mulai mengurus mading dan buletin sekolah.
Setelah lulus opa melanjutkan studinya di Universitas Pattimura, fakultas pertanian, jurusan hama penyakit. Dsini opa mulai mengurus media UNPATTI dan menjadi anggota organisasi, misalnya PMKRI dan GMKI tahun 1983.
 Mantan Anggota warkat pastoral (buletin uskup Amboina) ini juga menagalami proses yang begitu panjang sehingga pada semester akhir (skripsi) harus dinyatakan drop out. Namun langkah juang sang inpirator tak henti disini. Pada tahun 1993 opa bergabung bersama 15 teman lainnya di media suara maluku. Hingga Tiga bulan kemudian opa diangkat menjadi redaktur.
Dalam prestasi yang ada opa tidak pernah mendapatkan juara, namun opalah yang menjadi juri bagi setiap peserta lomba sastra. Selain itu juga opa melakukan pelatihan-pelatihan jurnalis di tingkat SMA maupun mahasiswa. Hal ini dikarenakan opa sangat mengerti dengan kode etik wartawan.
Tahun 1999 opa jatuh cinta dan mempersunting seorang wanita cantik yang bernama Ketty renwarin, dan di anugrahi empat anak perempuan yang cantik-cantik. Dan hingga saat ini opa  menjadi wakil pimpinan redaksi koran suara maluku.
Dikesempatan yang sama ketika diwawancarai, opa menyampaikan harapan bagi para wartawan muda. Menulis itu gampang tetapi yang menjadi terpenting adalah kode etik. Inilah dasar seseorang wartawan menjadi profesional. Ketika dasarnya baik maka penulisan akan sangat baik, ujar opa rudi.

Selasa, 08 November 2011

Temaram saksi kunci


Temaram adalah bulan sabit
Yang tak tajam cahayanya
Temaram adalah kunang-kunang yang
Melihat pelakon domino
Dan menenemani tikus got
Yang mengais sampah

Temaram adalah pohon sagu yang menjerit marah
Di petuwanannya
Ketika melihat padi yang bersorak gembira
Di sekitar sungai yang membentuk orkestra

 Temaran meneteskan air mata ketika melihat setiap anting-anting yang menari
Untuk menunjukan kilauan yang berbising dan berasap
Di tengah keheningan sepotong balok

Temaram menghisap sebatang rokok
Dan menyumburkan asap di setiap
Jiwa-jiwa rerumputan muda
Agar terinfeksi dengan setiap polusi jiwa
Karena kekeringan darah merah

Temaram adalah teropong tua yang melihat rintihan tinta pena yang redup
Ketika menyaksikan payung menari dengan lambayan pohon-pohon coklat
Temaram adalah saksi kunci pengadilan untuk menyampaikan
Setiap penglihatan, dan jeritan
Namun temaram seperti semut merah yang kehilangan arah
Untuk menemukan gubuknya
Karena banyak tanaman, binatang dan benda yang tak bernafas
yang membius sang saksi kunci.

Jumat, 30 September 2011

Tari Orlapei



Tari Orlapei merupakan salah satu peninggalan seni budaya dari Portugis yang berfariasi. Tarian ini adalah tarian penyambutan para tamu kehormatan pada acara-acara Negeri/Desa di Maluku Tengah. Pada umumnya menggambarkan suasana hati yang gembira dari seluruh masyarakat terhadap kedatangan tamu kehormatan di Negeri/Desa-nya, dan menjadi ungkapan Selamat Datang. Kombinasi pola lantai dan gerak serta rithem musik lebih memperkuat ungkapan betapa seluruh masyarakat Negeri/Desa setempat merasa sangat senang dengan hadirnya tamu kehormatan di Negeri/Desa mereka.Tarian ini menggunakan properti “gaba-gaba” (bagian tangkai dari pohon sagu/rumbia sebagai makanan khas rakyat Maluku, dan dalam dialek Maluku disebut “jaga sagu”) Diiringi alat musik tradisional rakyat Maluku, yaitu : Tifa, Suling Bambu, Ukulele, dan Gitar.

Rabu, 14 September 2011

ada satu carita
tentang realita
di mana hidop orang sudara
bergelut dengan dara

katong pung moyang

dudu carita deng Pati
angka sumpah for ana cucu pung hidop

sopi, parang deng dara jadi saksi..

for angka satu ikatan

pela gandong

macam ikang deng colo-colo
akang sadap sampe k tulang

dolo-dolo mulai ilang

sejak katong makang padi
lupa sagu sebagai tradisi

ana cucu sakarang kalakuang cuka,

asam paskali......

dolo katong manis

sakarang katong padis

gandong bunu gandong

pela bakar pela

ingatang katong pung moyang

yang dudu deng sangsara
demi hidop sakarang

Maluku itu damai

Maluku itu manis

mari katong masohi

walang deng tapalang


for makang papeda deng colo-colo
bukang padi deng aer mata...


Jumat, 19 Agustus 2011


Selingkuh dan Perempuan

23:38. Tulisan ini dibuat, sambil ditemani sebtang rokok. Mohon maaf jika terdapat kesalahan dalam penulisan dan bahasa yang tidak begitu baik karena saya kurang begitu paham tentang EYD dalam bahasa Indonesi, sebagi buktinya mata kuliah sastra saya mendapatkan nilai yang kurang memuasakan. “Maaf ya sedikit curhat hehehehe” .
Selingkuh dan perempuan, judul yang tepat untuk mengawali pemikiran ini sehingga tertuang lewat jemari tangan dalam pengetikan. Dan diskusi yang dilakukan dalam ibadah AM GPM  ranting Diaspora menjadi titik tolak kenapa penulisan ini merasa perlu.
Saya akan sedikit mencaritakan tentang diskusi yang dibawakan. Dalam diskusi ini terdapat realita sepasangan suami isteri yang memiliki kedua orang anak, dalam proses yang panjang sang suami berselingkuh, kemudian sang pemimpin ibadah yang sekaligus telah membawakan diskusi menanyakan tiga pertanyaan. Pertanyaan yang menjadi penting bagi saya adalah bagaimana sikap seorang isteri ketika mendengar dari sang suami kalau suminya telah berselingkuh. Banyak jawaban yang disampaikan, namun hal yang menarik adalah pada jawaban saudari-saudariku (perempuan). Yaitu,  Maafkan, mau bagimana lae kalau seng bagini b ana dua bagimana, b maafkan sebab ada tertulis apa yang disatukan Tuhan tidak dapat dipisahkan, b butuh waktu, dan tidak segan-segan ada pula yang menjawab b menerima dengan aktif (ada pot bunga di samping b lempar dolo, b kasi kaluar samua baru nanti dudu bicara bae-bae). Jawaban-jawaban ini menjadi hal yang cukup jujur dan disisi lain menjadi suatu pemikiran yang tidak adil terhadap kaum perempuan. Entah karena budaya patriakhi[1] sehingga membentuk cara pandang perempuan, ataukah pengaruh Alkitab yang sebenarnya dalam proses penulisannya terbungkus oleh budaya patriakhi (bnd 1kor 14: 34). Era saat ini timbul pemikiran-pemikiran baru oleh tokoh-tokoh perempuan yang menyuarakan tentang GENDER[2], atau kesetaraan. Apakah jawaban di atas ini mengindikasikan kesetaraan. Marah kecewa dan sebagainya adalah hal yang manusiawi namun jawaban yang “menerima”, manusiawikah jawaban ini ataukah suatu ketakutan dari teman-temanku ini namun bisa juga karena cinta. Namun pertanyaan selanjutnya sampai kapan perempuan harus menjadi korban, dalam penulisan ini saya tidak akan menawarkan kekerasan dan juga penerimaan secara sukarela yang berlandaskan ketakutan dan Cinta saja. Untuk itu saya merasa perlu untuk melihat arti selingkuh dan perempuan dalam poin berikutnya.

Selingkuh
Apa sih selingkuh ini?, dalam konteks pacaran kadang kita selaku pemuda-pemudi melakukan hal demikian, namun benarkah dalam proses berpacaran ini dinamakan selingkuh dan dapat disamakan dengan konteks pernikahan. Saya penulis meminta maaf tidak dapat mendefenisikan arti selingkuh ini dengan baik menurut pemikiran para ahli dan kamus bahasa indonesia. Namun saya akan mencoba mengartikan kata selingkuh dengan pandangan saya sendiri, dan semoga ketika karya tulis ini natinya di posting melalui blog saya. Saudara-saudari boleh menambahkan arti selingkuh menurut pandangan saudara-saudari.
Selingkuh bagi saya adalah suatu perbuatan “penghianatan” terhadap suatu janji yang suci, selingkuh juga mengindikasikan tentang perbuatan seseorang (laki-laki maupun perempuan) yang tidak merasa puas dengan apa yang dia “miliki”, selingkuh juga adalah suatu hal yang manusiawi, proses yang mendebarkan, menyenangkan namun dalam waktu sesaat. Pernahkah kita merasakan hal seperti ini, huuuuuuuuuuuuuuuuuuffffffff, relatif untuk menjawab proses ini. dan saya berharap nantinya ketika kita telah terikat dengan janji suci dalam altar pernikahan hal seperti ini tidaklah terjadi. Namun bila terjadi yaaaaaaaaaaaa selamat menikmati persaaan yang mendebarkan dan menyenangkan dalam waktu sesaat.
Berbicara tentang selingkuh juga merasa penting untuk saya menanyakan kenapa proses perselingkuhan ini terjadi, dari jawaban salah seorang pembinan AM GPM ranting diaspora, hal ini terjadi karena efisiensi waktu, yang mana waktu berkumpul dengan keluarga sangat sedikit ketimbang waktu bersama teman-teman di tempat kerja. untuk itu kedekatan menjadi berubah dan menciptakana dilema dalam perasaan (kalimat terakhir tambahan dari saya). Namun disisi lain kata seorang dosen saya perselingkuhan adalah akibat, yang mana ketika kenyamanan tidak lagi ditemukan dalam keluarga maka seseorang akan mencari tempat yang menurut dia lebih nyaman. Misalnya, pacar yang posesif apakah kita nayaman?, isteri atau suami yang sukanya marah-marah, apakah ini nyaman. Saya pribadi akan menjawab TIDAAAAAAAAAAAAAAAK. Hehehehehehehe......... mari kita mengoreksi diri kita lebih awal sebelum perselingkuhan ini terjadi (lebih baik mencegah dari pada mengobati).

Perempuan
Dalam mengartikan istilah perempuan teknisnya tidak jauh berbeda dengan penjelasan diatas, saya akan mencoba mengartikannya dengan pandangan saya sendiri. perempuan adalah ibu saya, adik saya (viona), saudari-saudari saya dalam AM, “sahabat terbaik saya dikampus maupun SMA dulu” dan perempuan adalah “pacar”?????? saya yang nantinya akan menjdai isteri saya...... heheheheheh www.ngarep.com .... menurut cerita dalam Alkitab perempuan diciptakan, ketika Tuhan melihat kalau laki-laki tidak seharusnya sendiri, dan kemudian diambil tulang rusuk dari laki-laki hingga Tuhan menciptakan makhluk yang adalah perempuan. Bagi saya proses terjadinya perempuan bukanlah hal yang biasa, yang berambut panjang dan disebut perempuan bagi saya adalah anugrah[3], adalah hadiah Tuhan kepada laki-laki. Tanpa sosok perempuan laki-laki hanyalah sendiri dan hampa. Uniknya lagi kenapa Tuhan menciptkana perempuan dari tulang rusuk, bagi saya tulang rusuk manusia terdapat ditengah-tengah tubuh manusia untuk itu perempuan bukanlah makhluk yang tertinggi dari laki-laki dan apalagi dibawah laki-laki. Tengah mengindikasikan kesetaraan, coba kita berpikir sesaat ketika kita merangkul memeluk dan menjaga seseorang posisi yang paling nyaman adalah ketika orang itu berada tepat di tulang rusuk kita. Maka saya meras sudah jelas bahwa perempuan adalah hadiah, sama atau setara (tengah) dan perlu pelukan dan perlindungan oleh sosok laki-laki.
Namun disisi lain saya penulis juga harus mengakui bahwa sosok seorang perempuan memiliki perasaan yang lebih kuat ketimbang laki-laki, karena perempuan cendrung berfikir dengan air mata, ketimbang fisik, ini bukanlah suatu cara yang cengeng[4]. Namun kelebihan yang diberikan oleh Tuhan kepada sosok perempuan. Seorang perempuan ketikan menegluarkan air mata maka ia akan merasa lega, dan laki-laki sendiri jarang untuk mengeluarkan air mata malahan lebih ke arah miras, sentuhan fisik (baku pukul) dan tidak jarang ujung-ujungnya selingkuh. Maka kesimpulan yang kita dapat adalah perempuan lebih setia ketimbang laki-laki.

Jawaban kasus
Jawaban untuk pertanyaan dalam kasus yang didiskusikan dalam ibadaha AM GPM ranting Diaspora (18 Agustus 2011), dari sedikit pengertian dan refleksi selingkuh dan perempuan di atas adalah pertama kita harus menyadari siapa sosok perempua itu, kemudian bagaimana kita memahami arti pernikahan yang adalah janji suci antara laki-laki dan perempuan yang seharusnya bukan menjadi momok untuk ditakuti tetapi menjadi motifasi sebagai tanggung jawab bersama. Dan dalam kasus ini selingkuh telah terjadi bagaimana sikap perampuan untuk menjawab ini. Dalam hal ini saya akan mencoba menjawab dalam dua sosok. Yang pertama menempatkan diri sebagai seorang perempuan. Dan berani memaafkan sosok laki-laki yang berselingkuh ini bukan karena takut dan terlanjut cinta tetapi memaafkan sebagai sosok perempuan yang berhikmat, dan perempuan yang memiliki kekuatan (super womeman), yang berfikir dengan perasaan yang sejati (butuh kesendirian dan perenungan). Jawaban yang kedua, saya akan menempatkan diri sebagai sosok laki-laki yang melihat  kasus ini. wahai anugrah Tuhan yang terindah (perempuan) janagan pernah takut dengan statusmu, jadilah motifator bagi semua makhluk, sebab dirimu (perempuan) bukanlah sosok yang lebih rendah atau lebih tinggi, tapi dirimu adalah sosok yang akan di puji dan dilindungi, untuk itu janagn pernah berkecil hati dan takut untuk merubah dunia.......
....................................... 02:25..................................... saya kehabisan kata untuk mengungkapkan sosokmu (perempuan)......... tulisan ini dibuat untuk saudara dan saudariku yang berani menyuarakan perempuan dan mencintai sosok perempuan dengan tulus..................... (^_-)...... .....AM GPM ranting Diaspora .......Tete Manis Sayang.........02:30...



[1] Patriakhi adalah salah satu budaya yang di antut oleh masyarakat dulu bahkan hingga saat ini, yang mana dalam prosesnya laki-laki menjdai lebih penting ketimbang perempuan. 
[2] Gender adalah jenis kelamin sosial, lebih jelasnya adalah kesetaraan antara laki-laki dan perempuan
[3] Anugrah adalah pemberian Allah dengan sukarela dan bagaimana kita menghargai pemberian Allah itu.
[4] Cengeng adalah salah satu istilah yang dipakai dalam masyarkat ambon (maluku) untuk menunjukan kalau orang tersebut sering mengeluarkan air mata.

Selasa, 16 Agustus 2011

konseling lintas budaya

PEMBAHASAN

A.    Dinamika Masyarakat dan Transformasi  Kebudayaan
Disadari atau  tidak, dinamika masyarakat berlangsung begitu cepat.  Dinamika masyarakat dan transformasi sosio-kultural disebabkan oleh kemajuan peradaban manusia, terutama kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Peradaban masyarakat dunia, mengalami beberapa gelombang  transformasi, dimulai dengan peradaban agrikultural dan industrial baru kemudian peradaban informasi. Peradaban informasi ini, melahirkan era “globalisasi”. Dalam era globalisasi ini, manusia mengalami perubahan yang begitu cepat dalam segala hal. Globalisasi meningkatkan pluralitas dalam segala hal, meningkatkan mobilitas baik dalam hal arus barang, layanan, modal, ide, budaya, manusia dan sebagainya. Dengan demikian, globalisasi memungkinkan pertemuan manusia dengan latar belakang budaya yang berbeda-beda, dalam satu lokasi atau wilayah. Dalam era globalisasi ini, manusia mengalami perubahan yang begitu cepat dalam segala hal. Misalnya, dari aspek ekonomi, berkembang perdagangan bebas, kerja sama regional dan internasional. Dalam aspek politik, proses globalisasi merupakan proses demokratisasi dan muncul kesadaran akan penegakan HAM, dan banyak contoh lain.
Menghadapi dinamika dan perubahan tersebut, tidak semua masyarakat memiliki kemampuan yang sama. Ada masyarakat yang dapat menyesuaikan, mengantisipasi dan menghadapi perubahan, tetapi ada pula yang tidak mampu. Sehingga, menyebabkan mereka mudah mengalami ketegangan dan tidak tahu arah. Bersama perubahan yang besar dan cepat dalam masyarakat, terbawa pula perubahan budaya dengan nilai-nilainya. Melihat adanya dinamika yang terjadi dalam masyarakat dan transformasi budaya tersebut, maka konseling lintas budaya atau konseling multi budaya (counseling a cross culture) menjadi nyata relevansinya dan urgensinya untuk diterapkan dalam pelayanan bimbingan dan konseling. Karena itu, Mukthar Bukhori menyarankan bahwa layanan BK mengenai transformasi sosial, budaya, yaitu layanan BK yang terkait dengan adanya perubahan sosial budaya, serta mempertimbangkan kondisi sosial budaya.
B.                 Latar Belakang Konseling Lintas Budaya
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah memicu lajunya perkembangan peradaban manusia, yang berdampak pada mobilitas penduduk, modal, nilai dan ideologi dsb. dari suatu tempat ke tempat yang lain. Akibatnya, tercipta suatu pemukiman dengan beragam budaya. Keragaman budaya ini pada kondisi normal dapat menumbuhkan keharmonisan hidup, namun dalam kondisi bermasalah dapat menimbulkan hambatan dalam berkomunikasi dan penyesuaian antar budaya.
Adanya keragama budaya merupakan realitas hidup, yang tidak dapat dipungkiri mempengaruhi perilaku individu dan seluruh aktivitas manusia, yang termasuk di dalamnya adalah aktivitas konseling. Karena itu, dalam melakukan konseling, sangat penting untuk mempertimbangkan budaya yang ada. Namun, dalam kenyataannya, kesadaran budaya dalam praktek konseling masih sangat kurang. Hal ini sangat berbahaya konseling yang tidak mempertimbangkan budaya klien yang berbeda akan merugikan klien. Menurut Freire, pendidikan yang tidak melihat budaya klien adalah pendidikan yang menindas. Kesadaran budaya harus menjadi tujuan pendidikan, termasuk konseling yang lebih mengena.
Dua komponen pokok dalam konseling yaitu klien dan konselor. Hubungan klien dan konselor selalu dipengaruhi oleh budaya dan latar belakang sejarah klien dan latar belakang sejarah konselor.  Komponen lain yang juga penting dalam konseling yaitu teori, tempat layanan dan proses konseling. Tempat layanan konseling berlangsung juga mempunyai nilai budaya sendiri yang juga penting dipertimbangkan dalam melakukan konseling.
Seluruh komponen konseling ini membentuk proses konseling dan perumusan tujuan konseling yang diwarnai budaya klien, konselor, lingkungan dan teori yang digunakan. Dalam perkembangannya, hampir selalu menggunakan pendekatan yang sarat nilai-nilai barat, karena itu pendekatan yang digunakan tidak selalu efektif dipraktekkan, terutama dalam setting yang berbeda dengan budaya barat. Kenyataan seperti ini yang mendorong beberapa tokoh konseling (1970) untuk mengembangkan konseling lintas budaya.
Dari uraian ini, dapat disimpulkan beberapa latar belakang perlunya konseling lintas budaya:
·                     Adanya kecenderungan budaya global dan transformasi budaya sehingga  
            masyarakat semakin majemuk dengan keragaman budayanya
·                     Setiap budaya membentuk pola kepribadian, pola bertingkah laku secara
            khusus, termasuk dalam proses konseling
·                     Adanya proses akulturasi atau percampuran antar budaya
·                     Adanya berbagai keterbatasan, hambatan dalam praktek konseling yang
            selama ini dilakukan, terutama pendekatan-pendekatan yang sarat nilai-nilai
            barat, yang kurang mempertimbangkan aspek budaya yang lain
·         Adanya berbagai pendekatan konseling yang bersumber dari nilai-nilai budaya asli masyarakat dan berkembang dalam praktek konseling di masyarakat
C. Pengertian konseling lintas budaya
Sekitar tahun 1970 gagasan tentang konseling lintas budaya ini mulai muncul namun belum begitu dikenal karena tulisan-tulisan tentang konseling lintas budaya masih sangat minim, sehingga formulasi yang mapan belum ditemukan. Dampak dari hal ini maka orang-orang mulai menyalah artikan konseling lintas budaya, mengkritisi dan sebagian orang bersikap skeptis.
Bila dilihat secara singkat dan membaginya dalam dua istilah maka konseling lintas budaya diartikan sebagai konseling yang dilakukan dalam budaya yang berbeda. Dalam kutipan para ahli, Tolbert, Belkin dan Brammer mengemukakan bahwa pada umumnya koseling menekankan pada permasalahan dan penghargaan pada keunikan klien, penentuan diri sendiri, nilai kebebasan, aktualisasi, potensi, orientasi masa depan, peningkatan martabat semua tanpa melihat budaya .
Ada beberapa elemen yang sama bila dilihat dalam mendefenisikan konseling, antara lain:
Ø Konseling adalah hubungan antar pribadi,
Ø Konseling adalah suatu proses,
Ø Konseling dirancang untuk membantu induvidu membuat keputusan
                        dan memecahkan masalah, dan
Ø Dalam konseling terlibat dua orang atau lebih yang di dalamnya, yaitu    
                        konselor dan klien.
Dari pengertian-pengertian di atas tidak terlihat secara eksplisit kata kebudayaan disebutkan dalam defenisi konseling, namun kenyataan yang ada kita adalah manusia yang hidupdi dalam budaya tertentu, bahkan menjadi pelaku-pelaku dalam proses konseling karena itu dapat dikatakan kebudayaan itu ada dalam individu-individu yang terlibat dalam konseling, bahkan segala aspek dalam konseling terkait dengan budaya.
Dalam konseling lintas budaya ada juga permasalahn yang muncul yaitu perbedaan pengertian. Misalnya, ada beberapa parah Ahli yang mengemukakan bahwa proses konseling lintas budaya adalah konseling yang diberikan kepada mereka yang sama budayanya dengan konselor, namun memiliki peranan yang berbeda. Disisi lain salah seorang ahli mengemukakan bahwa konseling lintas budaya terjadi apabila suatu proses konseling terdapat perbedaan budaya antara konselor dan klien. Perbedaan antara keduanya muncul sebagai suatu proses hasil sosialisasi dalam kebudayaan yang berbeda (locke, 1990).
Asumsi dasar konseling lintas budaya adalah bahwa individu yang terlibat dalam konseling itu hidup dan dibentuk oleh lingkungan budaya, baik keluarga maupun masyarakat. Perbedaaan yang dimiliki sebenarnya meliputi berbagai macam hal misalnya agama, jenis kelamin, pekerjaan, suku bangsa dan lainnya. Disamping itu faktor masyarakat menjadi hal yang begitu penting.  Untuk itu dapat disimpulkan bahwa perbedaan antara konselor dan klien bukan hanya mencakup bangsa tetapi juga mencakup aspek kebudayaan yang luas.
Dengan uraian-uraian diatas maka kita dapat mendefenisikan konseling lintas budaya sebagai suatu proses konseling yang melibatkan antara konselor dan klien yang berbeda budayanya, dan dilakukan dengan memperlihatkan budaya subyek yang terlibat dalam konseling. untuk itu konselor diharapkan mengetahui aspek-aspek khusus dalam proses konseling dan dalam gaya konseling, agar proses pendampingan menjadi sangat terampil.